Kawan Pustaha

Kawan Pustaha

Membangun memori kolektif dan meneruskan pengetahuan pustaha — naskah tradisional Batak — kepada generasi mendatang melalui riset, dokumentasi, dan seni kontemporer.Building a collective memory and passing on the knowledge of pustaha — traditional Batak manuscripts — to future generations through research, documentation, and contemporary art.

Naskah pustaha kulit kayu Batak

Pustaha koleksi Museum aan de Stroom (MAS), no. koleksi AE.1922.0001.1007, Antwerpen, Belgia.Pustaha from the collection of Museum aan de Stroom (MAS), collection no. AE.1922.0001.1007, Antwerpen, Belgia.

Didirikan pada 14 Juni 2022 di Rumah Bausasran, kolektif ini tumbuh dari keinginan untuk membuka kembali jalur-jalur pembacaan, penulisan, dan pemaknaan terhadap warisan literasi yang kerap terputus oleh jarak, waktu, dan akses.Founded on 14 June 2022 at Rumah Bausasran, the collective grew from a desire to reopen the pathways of reading, writing, and meaning-making around a literary heritage often severed by distance, time, and access.

Hampir setiap Rabu malam, Rumah Bausasran menjadi ruang pertemuan yang hidup: tempat aksara dipelajari, manuskrip dibaca ulang, dan pengetahuan dibicarakan serta dibagikan secara setara. Melalui kelas Baca Tulis Aksara Batak (BATUAKBA), baik secara luring maupun daring, kolektif ini merawat praktik belajar yang partisipatif — di mana setiap orang dapat menjadi pembaca sekaligus penulis, pengingat sekaligus penerus.Almost every Wednesday night, Rumah Bausasran becomes a living meeting space: a place where script is studied, manuscripts are re-read, and knowledge is discussed and shared as equals. Through the Baca Tulis Aksara Batak (BATUAKBA) classes, held both offline and online, the collective sustains a participatory learning practice — where everyone can be reader and writer, keeper and successor at once.

Seiring perjalanannya, Kawan Pustaha tidak hanya berfokus pada praktik membaca dan menulis, tetapi juga menelusuri jejak pustaha yang tersebar di berbagai perpustakaan, museum, dan koleksi di dalam maupun luar negeri. Upaya mengakses dan mempelajari digitalisasi manuskrip menjadi bagian penting dari kerja kolektif ini: menjembatani yang jauh, mendekatkan yang pernah terpisah, serta membuka kemungkinan baru dalam memahami pustaha di masa kini.Along the way, Kawan Pustaha has focused not only on the practice of reading and writing, but also on tracing pustaha scattered across libraries, museums, and collections both at home and abroad. Accessing and studying digitized manuscripts has become an important part of the collective's work: bridging what is distant, drawing closer what was once separated, and opening new possibilities for understanding pustaha today.

Berbagai kegiatan — mulai dari kelas, studi lapangan, publikasi, hingga pameran — menjadi cara Kawan Pustaha membangun percakapan yang berkelanjutan antara masa lalu dan masa kini. Dalam setiap prosesnya, kolektif ini terus mencari bentuk-bentuk baru untuk merawat ingatan, menghidupkan aksara, dan memperluas ruang belajar bersama.Various activities — from classes and field studies to publications and exhibitions — are how Kawan Pustaha builds an ongoing conversation between past and present. In every process, the collective keeps searching for new forms to keep memory alive, bring script to life, and expand a shared space for learning.

Rekam JejakTrack Record

Rekam Jejak KegiatanActivity Track Record

2022

  1. Kelas Baca Tulis Aksara Batak (BATUAKBA), hampir setiap Rabu, mulai pukul 19.09.Baca Tulis Aksara Batak (BATUAKBA) classes, almost every Wednesday, starting at 19.09.

2023

  1. BATUAKBA; studi lapangan oleh Tim Arus Balik (Mei)BATUAKBA; field study by Tim Arus Balik (May)
  2. Pameran Lapo Pustaha di Biennale Jogja, Asana Bina Seni (Juni)Lapo Pustaha exhibition at Biennale Jogja, Asana Bina Seni (June)
  3. Kelas BATUAKBA daring (November)Online BATUAKBA class (November)

2024

  1. BATUAKBA
  2. Ngobrol Bareng Komunitas Aksara: Writing Tradition & Kawanpustaha (Maret)Ngobrol Bareng Komunitas Aksara: Writing Tradition & Kawanpustaha discussion (March)
  3. Kultur-Mosaik aus Indonesien di Asia Africa Institute, University of Hamburg (April)Kultur-Mosaik aus Indonesien at the Asia Africa Institute, University of Hamburg (April)
  4. Surat, Hata, Poda: Merawat Budaya Menolak Punah — Seri Diskusi Naskah Nusantara #48 di Perpusnas RI, dengan narasumber Jorliman Sidabutar dan Sepwan Sinaga (Mei)Surat, Hata, Poda: Merawat Budaya Menolak Punah — Nusantara Manuscript Discussion Series #48 at Perpusnas RI, with speakers Jorliman Sidabutar and Sepwan Sinaga (May)
  5. Pameran foto di The Blackwood, University of Toronto Mississauga, dengan judul karya Weaving the Aksara into Knowledge (Juli)Photo exhibition at The Blackwood, University of Toronto Mississauga, titled Weaving the Aksara into Knowledge (July)
  6. Publikasi buku Tanda Tendi Tondi (Juli)Publication of the book Tanda Tendi Tondi (July)
  7. Studi lapangan ke Sumatra Utara oleh Tim Tuah Mangiring (Agustus)Field study to Sumatra Utara by Tim Tuah Mangiring (August)
  8. Pameran Hita Hita Fest (Agustus)Hita Hita Fest exhibition (August)
  9. Temu Aksara
  10. Pameran Mulak Ma Tondi (November)Mulak Ma Tondi exhibition (November)
  11. Seminar Gelar Budaya Bahana Nusantara di kampus UKDW Yogyakarta: Transisi Tradisi dalam Konteks Hari Ini (November)Gelar Budaya Bahana Nusantara seminar at UKDW Yogyakarta campus: Transisi Tradisi dalam Konteks Hari Ini (November)

2025

  1. BATUAKBA
  2. Publikasi buku trilogi Temu Aksara (Muara – Sagara – Samudra) yang melibatkan sembilan kolektif: Kawan Pustaha, PAUSS (Pecinta Aksara Ulu Sumatera Selatan), Jangkah, Sraddha, Kandang Kebo, Jawacana, Damalung – Tri Dathu, Banyumangsi, dan Lifepatch (Mei)Publication of the Temu Aksara trilogy (Muara – Sagara – Samudra), involving nine collectives: Kawan Pustaha, PAUSS (Pecinta Aksara Ulu Sumatera Selatan), Jangkah, Sraddha, Kandang Kebo, Jawacana, Damalung – Tri Dathu, Banyumangsi, and Lifepatch (May)
  3. Residensi Pressing Matter, Open Studio Rijksakademie dan pameran Unfinished Pasts di Wereldmuseum Amsterdam (Mei)Pressing Matter residency, Rijksakademie Open Studio, and the Unfinished Pasts exhibition at Wereldmuseum Amsterdam (May)
  4. Kelas Buku Fotografis bersama Balige Writers Festival (Juli)Photobook class with Balige Writers Festival (July)
  5. Kelas BATUAKBA dalam Jambore Nasional HKBP di Bogor dan Tapanuli Utara (Juli)BATUAKBA class at the HKBP National Jamboree in Bogor and Tapanuli Utara (July)
  6. Kajian pustaha koleksi Museum aan de Stroom, Belgia (November)Study of the pustaha collection at Museum aan de Stroom, Belgia (November)
  7. Buku Tuah Mangiring (November)Book Tuah Mangiring (November)
  8. Kelas Literasi Naskah Nusantara #7: Konsertina — Asal Usul dan Persebaran Naskah Batak & Ulu (Desember)Nusantara Manuscript Literacy Class #7: Konsertina — Origins and Distribution of Batak & Ulu Manuscripts (December)

2026

  1. Hibah Dana Indonesiana, Program Kajian Objek Kebudayaan: Buku Rambu Si Porhas (Januari–Agustus)Dana Indonesiana Grant, Cultural Object Study Program: Rambu Si Porhas book (January–August)
  2. “A Villa is a Plantation: Cleansing Rituals at Villa Patumbah” di Zürich, Swiss (12–19 September 2026)“A Villa is a Plantation: Cleansing Rituals at Villa Patumbah” in Zürich, Swiss (12–19 September 2026)
GaleriGallery

Dokumentasi KegiatanActivity Documentation

SelanjutnyaComing Up

Agenda MendatangUpcoming Agenda

Informasi mengenai lokakarya, diskusi, dan kegiatan komunitas Kawan Pustaha selanjutnya akan diperbarui di halaman ini. Pantau akun Instagram @kawanpustaha untuk kabar terbaru.Information about upcoming workshops, discussions, and community activities from Kawan Pustaha will be updated on this page. Follow Instagram @kawanpustaha for the latest updates.

Sopandu Manurung

Sopandu Manurung, anak bungsu dari 9 bersaudara. Lahir pada 2 Oktober 1993 di Motung, sebuah desa kecil di perbukitan Danau Toba, Kabupaten Toba. Menyelesaikan studi S1 Etnomusikologi di Universitas Sumatera Utara (2015). Melanjutkan studi S2 Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa di Universitas Gadjah Mada (2018–2021) melalui beasiswa LPDP. Saat ini aktif sebagai staf pengajar Etnomusikologi di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.Sopandu Manurung, the youngest of 9 siblings. Born on 2 October 1993 in Motung, a small village in the hills of Danau Toba, Kabupaten Toba. Completed his bachelor's degree in Ethnomusicology at Universitas Sumatera Utara (2015). Continued his master's studies in Performing Arts and Visual Arts Studies at Universitas Gadjah Mada (2018–2021) through an LPDP scholarship. Currently active as an Ethnomusicology teaching staff at Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Berminat pada bidang kajian musik sekaligus aktif sebagai praktisi dan pelatih musik, khususnya musik Batak Toba. Beberapa kegiatan berkesenian yang pernah dilakukan antara lain: pelatih tim musik Sumatera Utara dalam Festival Nasional Musik Tradisi Anak-Anak di Jakarta (2014), musisi tradisional (pemain sulim Batak) mewakili Indonesia dalam ASEAN Youth Ensemble di Bangkok, Thailand (2016), tim musik Sumatera Utara dalam Festival Indonesia di Moskow, Rusia (2017), pelatih musik “Rempak Gendang” di Satuan Brimob Medan (2017–2019), serta pelatih musik tradisional Batak Toba di Sekolah Tenera, Bengkulu Utara (2022–2023).Interested in the field of music studies as well as active as a music practitioner and trainer, particularly Batak Toba music. Some of the artistic activities he has undertaken include: trainer for the Sumatera Utara music team in the National Children's Traditional Music Festival in Jakarta (2014), traditional musician (Batak sulim player) representing Indonesia in the ASEAN Youth Ensemble in Bangkok, Thailand (2016), Sumatera Utara music team in the Festival Indonesia in Moskow, Rusia (2017), “Rempak Gendang” music trainer at Satuan Brimob Medan (2017–2019), and traditional Batak Toba music trainer at Sekolah Tenera, Bengkulu Utara (2022–2023).

Bagi Sopandu, pelestarian budaya Batak adalah sebuah laku menyeluruh yang tak terbatas pada praktik kesenian semata. Kesadaran kultural ini menuntunnya menjadi pegiat literasi Batak, yang salah satunya diwujudkan melalui perannya sebagai pegiat aksara dan pustaha Batak. Komitmen inilah yang kemudian membawanya terjun dan terlibat langsung dalam proyek “Pressing Matter: Ownership, Value and the Question of Colonial Heritage in Museums”, sebuah program riset internasional yang meneliti isu kepemilikan, nilai, dan restitusi warisan kolonial di museum untuk mengembangkan pendekatan yang lebih adil dan inklusif. Sopandu merupakan co-founder Komunitas Kawan Pustaha. Informasi tentang Sopandu dapat diakses melalui sopandumanurung.com dan Instagram @sopandumanurung.For Sopandu, preserving Batak culture is a comprehensive practice not limited to artistic activity alone. This cultural awareness led him to become a Batak literacy activist, embodied among other things through his role as a practitioner of Batak script and pustaha. This commitment eventually brought him to take part directly in the project “Pressing Matter: Ownership, Value and the Question of Colonial Heritage in Museums”, an international research program examining issues of ownership, value, and restitution of colonial heritage in museums to develop a fairer and more inclusive approach. Sopandu is a co-founder of the Kawan Pustaha Community. More information about Sopandu can be found via sopandumanurung.com and Instagram @sopandumanurung.

Patrick Aditya Maruahal Panusunanbulung Manurung

Ibu saya boru Panjaitan, lahir pada 1952. Leluhurnya dari Desa Sitorang di Kabupaten Toba. Bapak saya lahir di Desa Lumban Huala, dekat Porsea, pada 1942. Mereka menikah tahun 1975. Saya lahir dan besar di Bandung, punya tiga adik. Tahun 2003 menikah dengan Agriani Novita Trihadiningsih, sampai sekarang dan, sepertinya, selamanya. Kami punya satu anak perempuan, Petrina Matya Sidihoni.My mother is boru Panjaitan, born in 1952. Her ancestors came from Desa Sitorang in Kabupaten Toba. My father was born in Desa Lumban Huala, near Porsea, in 1942. They married in 1975. I was born and raised in Bandung, and have three younger siblings. In 2003 I married Agriani Novita Trihadiningsih, and remain so to this day and, it seems, forever. We have one daughter, Petrina Matya Sidihoni.

Tahun 2022 mendirikan Kawan Pustaha bersama Sopandu di sebuah rumah yang pemiliknya sangat baik hati, di Kampung Bausasran, Yogyakarta. Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui Instagram @pmanurung dan situs patrickmanurung.com.In 2022, founded Kawan Pustaha together with Sopandu in a house whose owner was very kind-hearted, in Kampung Bausasran, Yogyakarta. More information can be found via Instagram @pmanurung and the website patrickmanurung.com.

Faried Noor Siregar

Askal

Faried Noor Siregar adalah seniman interdisipliner, praktisi teater, dan penggiat manuskrip Batak (pustaha) berbasis di Yogyakarta, lulusan Jurusan Teater ISI Yogyakarta.Faried Noor Siregar is an interdisciplinary artist, theater practitioner, and Batak manuscript (pustaha) activist based in Yogyakarta, a graduate of the Theater Department at ISI Yogyakarta.

Sebagai seniman, ia sangat tertarik pada topik-topik seperti pelestarian budaya, isu sosial, dan lingkungan hidup, yang ia ekspresikan dan kembangkan melalui seni interdisipliner, termasuk teater dan seni visual lainnya. Ia juga berkarya lintas disiplin dalam rekayasa instrumen DIY, mengeksplorasi persilangan antara kerajinan tangan, bunyi, dan teknologi.As an artist, he is deeply interested in topics such as cultural preservation, social issues, and the environment, which he expresses and develops through interdisciplinary art, including theater and other visual arts. He also works across disciplines in DIY instrument engineering, exploring the intersection of craft, sound, and technology.

Faried Noor Siregar, yang dalam sembilan tahun terakhir akrab disapa Askal, lahir di Medan pada 22 September 1998. Ia dibesarkan oleh orang tua dengan latar budaya Angkola dari Tapanuli Selatan. Sejak tahun 2016, ia pindah ke Yogyakarta untuk melanjutkan pendidikan di Institut Seni Indonesia Yogyakarta dan menyelesaikan studinya pada tahun 2024. Askal bergabung dengan Kawan Pustaha sejak Oktober 2022. Sejak saat itu, ia merasa kembali “tercebur” ke dalam kebudayaan Batak, khususnya melalui eksplorasi pustaha laklak dalam program BATUAKBA (Baca Tulis Aksara Batak). Ia memiliki ketertarikan yang luas, mulai dari kegiatan alam bebas, diskusi kebudayaan, pemetaan, hingga teknologi rekayasa swakriya (DIY). Berangkat dari keragaman minat tersebut, dalam praktik keseniannya ia memilih pendekatan yang kerap disebut sebagai lintas disiplin. Selain aktif di Kawan Pustaha, Askal juga tergabung dalam dua kolektif lain, yaitu Lifepatch dan Bauhouse Consorxium. Informasi lebih lengkap mengenai dirinya dapat diakses melalui laman pribadi di askal.id dan Instagram @asucalypto.Faried Noor Siregar, who for the past nine years has been affectionately called Askal, was born in Medan on 22 September 1998. He was raised by parents of Angkola cultural background from Tapanuli Selatan. Since 2016, he moved to Yogyakarta to continue his education at Institut Seni Indonesia Yogyakarta and completed his studies in 2024. Askal has been part of Kawan Pustaha since October 2022. Since then, he has felt himself once again “plunged” into Batak culture, particularly through exploring pustaha laklak within the BATUAKBA (Baca Tulis Aksara Batak) program. He holds a wide range of interests, from outdoor activities and cultural discussions to mapping and DIY engineering technology. Drawing from this diversity of interests, his artistic practice favors an approach often described as interdisciplinary. Besides being active in Kawan Pustaha, Askal is also part of two other collectives, namely Lifepatch and Bauhouse Consorxium. More complete information about him can be found through his personal page at askal.id and Instagram @asucalypto.

Ia adalah anggota aktif Kawan Pustaha, Bauhouse Consorxium, dan Lifepatch, dan saat ini turut menghadirkan pameran The Greatest Pustaha di Wereldmuseum Amsterdam (2025–2027).He is an active member of Kawan Pustaha, Bauhouse Consorxium, and Lifepatch, and is currently co-presenting the exhibition The Greatest Pustaha at Wereldmuseum Amsterdam (2025–2027).

Louisye Ellysabeth br. Lubis

Ibeth

Lahir pada 19 Mei 2001 dan besar di Yogyakarta, Ibeth telah tertarik pada seni rupa sejak kecil melalui kegiatan menggambar dan membuat kerajinan. Ketertarikannya pada budaya Batak berkembang di akhir masa studinya, terutama melalui eksplorasi tekstil dan manuskrip Batak. Sejak bergabung dengan Kawan Pustaha pada 2023, ia mendalami pustaha Batak sebagai sumber pengetahuan dan inspirasi dalam praktik karyanya.Born on 19 May 2001 and raised in Yogyakarta, Ibeth has been drawn to visual art since childhood through drawing and craft-making. Her interest in Batak culture developed toward the end of her studies, particularly through exploring Batak textiles and manuscripts. Since joining Kawan Pustaha in 2023, she has deepened her study of Batak pustaha as a source of knowledge and inspiration in her artistic practice.

Ia terlibat dalam penelitian lapangan Tuah Mangiring di Sumatera Utara dalam program Tracing Values, Weaving Encounters: Indigenous Communities, Local Wisdom, and Artefacts, yang mempelajari pustaha, tunggal panaluan, dan ulos bersama komunitas lokal, dengan dukungan dari Museum aan de Stroom Belgia. Ibeth juga berpartisipasi dalam proyek kolaboratif dan residensi internasional di Amsterdam yang membahas koleksi kolonial dan interpretasi berbasis komunitas. Dalam konteks ini, ia berkontribusi pada pameran Unfinished Past: Return, Keep, or…? di Wereldmuseum Amsterdam melalui karya tekstil batik yang menuliskan manifesto Temu Aksara. Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui situs ibethlubis.com dan Instagram @ibethlubis2.She took part in the Tuah Mangiring field research in Sumatera Utara under the Tracing Values, Weaving Encounters: Indigenous Communities, Local Wisdom, and Artefacts program, which studied pustaha, tunggal panaluan, and ulos together with local communities, supported by Museum aan de Stroom Belgia. Ibeth also participated in a collaborative project and international residency in Amsterdam addressing colonial collections and community-based interpretation. In this context, she contributed to the exhibition Unfinished Past: Return, Keep, or…? at Wereldmuseum Amsterdam through a batik textile work inscribed with the Temu Aksara manifesto. More information can be found through the website ibethlubis.com and Instagram @ibethlubis2.

Kevin Bhaskara Sibarani

Kevin lahir pada 1991 dan tumbuh besar di beberapa kota di Indonesia. Usai kuliah di UGM dan bekerja di instansi pemerintah lebih dari satu dekade, ia kembali ke Yogyakarta guna menempuh studi lanjut di UGM. Meski terlahir sebagai seorang Batak, ia sempat merasa asing dengan pergaulan, bahasa, maupun ingatan tentang Batak.Kevin was born in 1991 and grew up across several cities in Indonesia. After studying at UGM and working at a government institution for more than a decade, he returned to Yogyakarta to pursue further studies at UGM. Although born Batak, he once felt like a stranger to Batak social circles, language, and memory.

Beberapa tahun terakhir, atau tepatnya sejak bertemu dengan istrinya, Kevin menaruh minat dan ketertarikan pada kajian serta praktik kebudayaan tradisional Indonesia. Melalui cara itu, ia berusaha mengenal identitasnya sebagai seorang Batak. Cara lain yang sedang diusahakannya adalah mengikuti kegiatan dan aktivasi Kawan Pustaha sejak Februari 2023, khususnya dalam mempelajari aksara Batak beserta diskursus kebudayaan Batak. Ia berharap suatu saat tanah leluhur memanggilnya pulang, atau sekadar singgah pun bukan masalah.In recent years, or more precisely since meeting his wife, Kevin has developed an interest in the study and practice of traditional Indonesian culture. Through this, he has sought to come to know his identity as a Batak person. Another path he is pursuing is joining Kawan Pustaha's activities since February 2023, particularly in learning Aksara Batak alongside discourse on Batak culture. He hopes that one day the ancestral land will call him home, though simply passing through would be fine too.

Rio Fernandez Tamba

Lahir dan besar di Pulau Samosir, berdomisili saat ini di Laguboti bersama Sarah Rosdiana Tambunan. Pendidikan Musik Universitas Negeri Medan dan Magister Tata Kelola Seni di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Bersama Kawan Pustaha ia belajar pengetahuan aksara Batak yang pernah dipelajari di SD–SMA, dan setelah empat bulan (2023), lancar beraksara Batak.Born and raised on Pulau Samosir, currently residing in Laguboti together with Sarah Rosdiana Tambunan. Studied Music at Universitas Negeri Medan and Arts Management (Master's) at Institut Seni Indonesia Yogyakarta. With Kawan Pustaha he relearned the knowledge of Aksara Batak he had once studied in elementary and high school, and after four months (2023), became fluent in it.

Bersama Kawan Pustaha, ia mentransliterasi dan menerjemahkan pustaha koleksi Museum Aan de Stroom (Antwerpen), SOAS (London), dan Ubersee Museum (Bremen). Pada Juli–Agustus 2024, ia tergabung dalam Tim Tuah Mangiring melakukan perjalanan belajar dan mencari informasi artefak Batak di Sumatera Utara.With Kawan Pustaha, he transliterates and translates pustaha from the collections of Museum Aan de Stroom (Antwerpen), SOAS (London), and Ubersee Museum (Bremen). In July–August 2024, he joined Tim Tuah Mangiring on a learning journey to gather information on Batak artefacts in Sumatera Utara.

Saat ini ada beberapa karya fotografi sederhana, trilogi Buku Fotografis Desa LSST (Lumban Suhi Suhi Toruan) yaitu Saurnauli, Pardamean, dan Parsaoran. Sekarang ia mengajar di Program Studi Pengelolaan dan Konvensi Acara di Politeknik WBI, Medan.He currently has several simple photographic works, a trilogy of Photobooks on Desa LSST (Lumban Suhi Suhi Toruan) titled Saurnauli, Pardamean, and Parsaoran. He now teaches at the Event Management and Convention Studies Program at Politeknik WBI, Medan.

Hertatiana br. Tamba

Tati

Hertatiana lahir dan besar di Bukittinggi, Sumatera Barat. Pada tahun 2017, ia melanjutkan pendidikan di Yogyakarta dan menempuh studi di Program Studi Sastra Jawa, Universitas Gadjah Mada, yang diselesaikan pada tahun 2022 dengan fokus penelitian di bidang filologi. Sejak 2023, ia bergabung sebagai anggota Kawan Pustaha untuk memperdalam kajian kebudayaan Batak, khususnya pustaha.Hertatiana was born and raised in Bukittinggi, Sumatera Barat. In 2017, she continued her education in Yogyakarta, studying at the Javanese Literature Study Program, Universitas Gadjah Mada, which she completed in 2022 with a research focus in philology. Since 2023, she has been a member of Kawan Pustaha to deepen her study of Batak culture, particularly pustaha.

Pada 2024, menjadi bagian dari tim Tuah Mangiring dan melakukan studi lapangan di Sumatera Utara untuk menelusuri pengetahuan Batak terkait pustaha, ulos, dan tunggal panaluan. Pada 2025–2026, ia terlibat dalam tim peneliti untuk kajian pustaha koleksi Museum aan de Stroom, Belgia.In 2024, she became part of Tim Tuah Mangiring and conducted field studies in Sumatera Utara to trace Batak knowledge related to pustaha, ulos, and tunggal panaluan. In 2025–2026, she was involved in the research team studying the pustaha collection at Museum aan de Stroom, Belgia.

Bersama Kawan Pustaha, ia turut memproduksi beberapa buku, antara lain Tanda Tendi Tondi (2024), Trilogi Temu Aksara — Muara, Sagara, Samudra (2025), serta Rambu Si Porhas: Jejak Sebuah Pustaha dari Tanah Batak ke Belgia (2026). Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui Instagram @hertatianaa dan situs hertatianatamba.com.With Kawan Pustaha, she has co-produced several books, including Tanda Tendi Tondi (2024), the Temu Aksara Trilogy — Muara, Sagara, Samudra (2025), and Rambu Si Porhas: Jejak Sebuah Pustaha dari Tanah Batak ke Belgia (2026). More information can be found via Instagram @hertatianaa and the website hertatianatamba.com.

Eskhana Carmelia br. Sibarani

Lahir di Kabupaten Tapanuli Utara, 20 November 1999. Tumbuh di Jakarta. Ibunya, Rumondang boru Sirait, lahir di Tarutung. Bapaknya, Badner Sibarani, lahir di Kabupaten Tapanuli Utara. Sejak usia 7 tahun aktif mengikuti lomba menyanyi, dan berteater semasa SMA. Masuk Seni Teater ISI Yogyakarta pada 2017, lulus 2022. Saat ini aktif di dunia seni pertunjukan dan film sebagai aktor, MC, dan stage manager.Born in Kabupaten Tapanuli Utara, 20 November 1999. Raised in Jakarta. Her mother, Rumondang boru Sirait, was born in Tarutung. Her father, Badner Sibarani, was born in Kabupaten Tapanuli Utara. Since age 7 she actively took part in singing competitions, and performed in theater during high school. Entered the Theater Arts program at ISI Yogyakarta in 2017, graduating in 2022. She is currently active in performing arts and film as an actor, MC, and stage manager.

Karena tumbuh di Jakarta, ia sempat kurang paham tentang Batak. Namun, pertemuan dengan sesama teman perantauan dari Tanah Batak menambah pemahamannya tentang Batak. November 2022 ia bergabung dengan Kawan Pustaha, dan kedekatannya dengan sukunya bertambah seiring mulai memahami Aksara Batak. Pada 25 November 2023 ia menjadi bagian dari pertunjukan teater Mangiring, disutradarai Miftahul Maghfira Simanjuntak, berperan sebagai Uli — karya yang mengisahkan sistem kekerabatan yang bertaut dengan hukum perkawinan, hukum kekerabatan, dan hukum waris adat.Because she grew up in Jakarta, she once had limited understanding of Batak identity. However, meeting fellow migrants from Tanah Batak deepened her understanding. In November 2022 she joined Kawan Pustaha, and her closeness to her own ethnic identity grew as she began to understand Aksara Batak. On 25 November 2023 she became part of the theater performance Mangiring, directed by Miftahul Maghfira Simanjuntak, playing the role of Uli — a work depicting a kinship system intertwined with marriage law, kinship law, and customary inheritance law.

Juniro Sitanggang

Lahir di Lumban Lintong, Kabupaten Samosir, 10 Juni 1989. Anak dari Marudin Sitanggang (+) dan Martha Ambarita. Masa kecil hidup di dataran tinggi Samosir dengan kegiatan bertani dan ternak kerbau. Menempuh studi sarjana pada tahun 2010–2016 di Fakultas Bahasa dan Seni, program studi Musik dengan minat Musikologi, di Universitas HKBP Nommensen Medan.Born in Lumban Lintong, Kabupaten Samosir, 10 June 1989. Son of Marudin Sitanggang (+) and Martha Ambarita. Spent his childhood in the Samosir highlands, farming and raising buffalo. Pursued undergraduate studies from 2010–2016 at the Faculty of Language and Arts, Music program with a focus in Musicology, at Universitas HKBP Nommensen Medan.

Selama kuliah mengikuti kegiatan kebudayaan melalui grup Incidental Music di Taman Budaya Sumatera Utara, beberapa kegiatan di Rumah Karya Indonesia, dan Pan Ensemble se-Sumatera. Pada September 2017–2021 menempuh studi magister di Pascasarjana ISI Surakarta bidang Penciptaan Karya, dan akhirnya memilih tinggal sebagai penduduk tetap di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Saat ini aktif berkesenian di Komunitas Mantra Gula, sesekali di Kawan Pustaha.During his studies he took part in cultural activities through the Incidental Music group at Taman Budaya Sumatera Utara, several activities at Rumah Karya Indonesia, and the Pan Ensemble across Sumatra. From September 2017–2021 he pursued a master's degree at the Pascasarjana ISI Surakarta in Creative Works, and eventually settled as a permanent resident of Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. He is currently active in the arts with Komunitas Mantra Gula, and occasionally with Kawan Pustaha.

Ripase Nostanta br. Purba

Bere Tarigan, Kempu Sembiring, Binuang Tarigan, lahir dan besar di Berastagi, Tanah Karo, 17 Agustus. Dalam keseharian, nama panggilannya Ripa. Saat berkumpul bersama sesama suku Karo, nama panggilannya Nuhar. Meninggalkan Karo tahun 2012 untuk kuliah. Kampung halaman Bapak di Peceren Berastagi dan Mamaknya beru Tarigan di Narigunung, Kecamatan Tiganderket. Ia anak pertama dari tiga bersaudara. Saat ini berdomisili di Yogyakarta setelah studi Pascasarjana di ISI jurusan Pengkajian Seni Lukis.Bere Tarigan, Kempu Sembiring, Binuang Tarigan, born and raised in Berastagi, Tanah Karo, 17 August. In daily life, she goes by Ripa. When gathering with fellow Karo people, she is called Nuhar. Left Karo in 2012 for university. Her father's hometown is Peceren Berastagi, and her mother, beru Tarigan, is from Narigunung, Kecamatan Tiganderket. She is the eldest of three siblings. Currently residing in Yogyakarta after completing her graduate studies at ISI in Painting Studies.

Sejak awal 2023 bergabung dengan Kawan Pustaha, saat itu ia orang kedua yang bersuku Karo. Kolektif ini membawanya kembali untuk lebih mengenal, mencintai, dan bangga akan peninggalan nini bulang suku Karo, terutama dalam pelestarian pustaka. Mengingat aksara Karo kini kurang mendapat perhatian dari pemerintah dan masyarakat Karo, Kawan Pustaha menjadi wadah untuk belajar, berkumpul bersama orang-orang yang memiliki minat yang sama, ruang perayaan, dan ruang pelepas rindu saat jauh dari rumah.She joined Kawan Pustaha in early 2023, at the time being the second Karo member. The collective brought her back to know, love, and take pride in the heritage of the Karo people's ancestors, especially in preserving manuscripts. Given that Karo script now receives little attention from the government and the Karo community, Kawan Pustaha has become a space to learn, gather with others of shared interest, celebrate, and ease the longing for home while far away.

Grace Ayu Permono Putri br. Sembiring Meliala

Lahir di Sleman, 24 Februari, anak pertama dari 3 bersaudara, putri pasangan J.H. Sembiring Meliala dan D. Dhyah P. S. Sitepu. Setelah lulus SMA, mengawali dunia kerja di bagian administrasi sebuah radio dan menjadi guru les matematika. Penghasilannya menjadi modal berharga untuk mendaftar ke Institut Seni Indonesia Yogyakarta.Born in Sleman, 24 February, the eldest of 3 siblings, daughter of J.H. Sembiring Meliala and D. Dhyah P. S. Sitepu. After finishing high school, she began working in radio station administration and as a math tutor. Her earnings became valuable capital for enrolling at Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Studinya di Program Studi Tata Kelola Seni ISI Yogyakarta rampung dalam tujuh tahun. Di sela-sela kuliah, ia mengaktivasi kerja media yang diawali dengan akun @grace.artevent. Ia juga menjalani berbagai pekerjaan, mulai dari MC/moderator, PR/Marcom, Art Management/Event Organizer, hingga pendamping/konsultan di beberapa program kampus.Her studies at the Arts Management Study Program, ISI Yogyakarta, took seven years to complete. Alongside her studies, she launched media work starting with the account @grace.artevent. She has also taken on various jobs, from MC/moderator, PR/Marcom, Art Management/Event Organizer, to mentor/consultant for several campus programs.

Christoper Manurung

Tito

Lahir di Medan, 5 Juni 2003. Ibunya, Esra Parmian Talenta Siburian, lahir di Medan. Bapaknya, Mangara Jaya Manurung, lahir di Desa Raja Maligas II, Kecamatan Huta Bayu Raja, Kabupaten Simalungun. Anak ketiga dari tiga bersaudara. Sejak usia lima tahun meniti jejak sang ibu yang menggeluti dunia musik. Tahun 2018 masuk SMKN 11, jurusan Seni Musik Klasik.Born in Medan, 5 June 2003. His mother, Esra Parmian Talenta Siburian, was born in Medan. His father, Mangara Jaya Manurung, was born in Desa Raja Maligas II, Kecamatan Huta Bayu Raja, Kabupaten Simalungun. The third of three siblings. Since age five he has followed in his mother's footsteps in the world of music. In 2018 he entered SMKN 11, majoring in Classical Music Arts.

Saat ini berkuliah di Institut Seni Indonesia Yogyakarta dan terus aktif menjalani dunia musik. Maret 2023 mulai datang ke pertemuan Kawan Pustaha, sebuah kolektif yang sangat terbuka untuk berbagi cerita tentang Batak atau sekadar nongkrong sambil berdiskusi. Pada 13 September 2023 ia mulai lancar membaca dan menulis Aksara Batak.He is currently studying at Institut Seni Indonesia Yogyakarta and remains active in music. In March 2023 he began attending Kawan Pustaha meetings, a collective very open to sharing stories about Batak or simply hanging out and discussing. On 13 September 2023 he became fluent in reading and writing Aksara Batak.

JejaringNetwork

KolaboratorCollaborators

  1. Bauhouse ConsorxiumKolektif seni new media yang memadukan kearifan lokal, teknologi, dan seni kontemporer.A new media art collective merging local wisdom, technology, and contemporary art.
  2. LifepatchInisiatif warga dalam seni, sains, dan teknologi, menjembatani pengetahuan tradisional dengan alat digital.A citizen initiative in art, science, and technology, bridging traditional knowledge with digital tools.
  3. Biennale Jogja, Asana Bina Seni, Yogya, Indonesia
  4. Literacy Coffee, Medan, Indonesia
  5. Blackwood Gallery, University of Toronto Mississauga Campus, Canada
  6. Institut Seni Indonesia, Yogya
  7. Museum aan de Stroom, Antwerp, Belgia
  8. Perpunas, Jakarta, Indonesia
  9. Universitas Hamburg, Jerman
  10. Wereldmuseum, Amsterdam, Belanda
  11. Balige Writers Festival, Kabupaten Toba, Indonesia
  12. Sastra Jawa, Universitas Gajah Mada, Yogya, Indonesia
  13. Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa), Komisariat Yogya, Indonesia